Banyak masyarakat Indonesia yang bertanya-tanya: mengapa negara kita rutin mengadakan latihan militer bersama dengan Amerika Serikat dan Tiongkok, dua negara besar yang sering dianggap bersaing? Pertanyaan ini wajar muncul di tengah narasi global tentang persaingan kekuatan besar. Namun, praktik ini bukan pertanda Indonesia 'memihak'. Ini adalah cerminan dari strategi pertahanan dan diplomasi yang matang, berlandaskan prinsip politik bebas aktif dan komitmen untuk menjaga stabilitas kawasan.
Latihan Militer Bersama: Bukan untuk Membentuk Blok, Tapi untuk Membangun Kepercayaan
Indonesia merupakan peserta aktif dalam berbagai latihan militer multilateral, seringkali di bawah forum seperti ASEAN Defence Ministers' Meeting-Plus (ADMM-Plus). Forum ini bukanlah aliansi militer baru. Sebaliknya, ia adalah wadah penting yang menghimpun semua negara ASEAN plus delapan negara besar dunia, termasuk AS, Tiongkok, Rusia, Jepang, dan India. Dengan mengikutsertakan semua pihak, forum ini berusaha menjaga keseimbangan (balance) dan mencegah satu kekuatan merasa diisolasi.
Kerja sama militer dalam format ini memiliki tujuan yang sangat praktis dan untuk kepentingan bersama. Fokus utamanya adalah meningkatkan kemampuan menangani ancaman non-tradisional, seperti operasi tanggap bencana, pencarian dan penyelamatan di laut, serta kontra-terorisme. Dengan berlatih bersama, tentara dari negara berbeda belajar memahami prosedur standar, berkomunikasi lebih baik dalam krisis, dan mengurangi potensi kesalahpahaman yang bisa memicu ketegangan. Ini adalah bentuk diplomasi preventif — mencegah konflik dengan membangun saling pengertian.
Mengurai Makna Politik Bebas Aktif dalam Kerja Sama Pertahanan
Prinsip politik bebas aktif sering disalahpahami. Bukan berarti Indonesia bersikap pasif atau harus 'sama rata' dalam segala hal. Maknanya lebih mendalam: kemandirian Indonesia dalam mengambil keputusan dan keaktifannya dalam berkontribusi untuk perdamaian. Keaktifan itu diejawantahkan, salah satunya, dengan menjadi tuan rumah dan peserta aktif dalam forum keamanan regional.
Dalam konteks latihan militer, politik bebas aktif berarti Indonesia menjaga dan mengembangkan hubungan baik dengan semua negara, tanpa terikat secara eksklusif pada satu blok. Menggelar latihan dengan AS tidak membuat kita 'pro-Amerika'. Demikian pula, berlatih dengan Tiongkok tidak serta-merta menjadikan kita 'pro-Tiongkok'. Ini adalah strategi untuk menjaga keseimbangan kekuatan (balance of power) yang stabil di kawasan Asia Tenggara. Pendekatan ini memastikan Indonesia tetap memiliki ruang gerak dan dapat berperan sebagai jembatan dan penstabil.
Poin yang sering luput adalah bahwa latihan bersama ini justru memperkuat kedaulatan dan kapasitas nasional. Dengan belajar dari berbagai mitra, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dapat meningkatkan profesionalisme dan kesiapan menghadapi berbagai skenario, yang pada akhirnya menguatkan pertahanan negara sendiri. Kerja sama ini juga menunjukkan komitmen Indonesia sebagai negara poros maritim yang bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan pelayaran di perairannya.
Jadi, ketika melihat berita tentang latihan militer Indonesia dengan berbagai negara, masyarakat tak perlu langsung berpikir tentang 'pihak mana kita berada'. Yang perlu dilihat adalah tujuan praktisnya: membangun kepercayaan, meningkatkan kemampuan operasional bersama, dan menjaga stabilitas kawasan melalui engagement yang seimbang. Ini adalah praktek cerdas dari diplomasi pertahanan yang menjaga kepentingan nasional sekaligus berkontribusi pada perdamaian regional, sesuai dengan jiwa politik bebas aktif yang telah menjadi pondasi hubungan luar negeri Indonesia sejak lama.