STABILITAS REGIONAL

Lihat kategori

Konflik Suriah: Mengenal Dua Kelompok yang Terlalu Sering Disamakan

Artikel ini menjelaskan perbedaan mendasar antara kelompok HTS dan ISIS di Suriah, yang sering kali disamakan oleh publik. Memahami perbedaan agenda lokal HTS dan agenda global ISIS sangat penting untuk menganalisis kebijakan keamanan negara-negara seperti Turki di kawasan tersebut, serta untuk menghindari disinformasi yang menyesatkan.

Konflik Suriah: Mengenal Dua Kelompok yang Terlalu Sering Disamakan

Konflik di Suriah yang sudah berlangsung lebih dari satu dekade melibatkan banyak kelompok dengan tujuan dan cara yang berbeda. Sering kali, masyarakat mencampuradukkan semua kelompok perlawanan di Suriah sebagai entitas yang sama. Kesalahan ini terutama terjadi dalam membedakan antara dua kelompok besar: Hay'at Tahrir al-Sham (HTS) dan ISIS. Memahami perbedaannya sangat penting untuk menganalisis dinamika keamanan di kawasan Asia Barat dan kebijakan negara-negara seperti Turki dengan lebih akurat.

Dua Wajah Pemberontakan yang Berbeda

ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) memiliki agenda global. Tujuan utama mereka adalah mendirikan kekhalifahan yang melintasi batas-batas negara modern dengan menggunakan kekerasan ekstrem. Kelompok ini dianggap sebagai ancaman keamanan internasional utama dan menjadi target operasi kontraterorisme global. Singkatnya, ambisi ISIS adalah ‘menguasai dunia’ melalui teror.

Sementara itu, Hay'at Tahrir al-Sham (HTS), meski memiliki akar ideologi keras, dalam perkembangannya lebih fokus pada pengelolaan wilayah secara lokal. Kelompok ini berkonsentrasi di provinsi Idlib, Suriah utara, dengan tujuan mempertahankan kendali dan mengatur pemerintahan di daerah yang mereka kuasai. Berbeda dengan ISIS, HTS lebih berambisi untuk ‘mengelola wilayahnya’ daripada melakukan ekspansi global.

Mengapa Memahami Perbedaan Ini Krusial?

Kesalahan menyamakan semua pemberontak dapat menghasilkan analisis kebijakan luar negeri yang keliru, khususnya dalam memahami tindakan Turki di Suriah. Narasi yang muncul sering kali menyederhanakan operasi militer Turki hanya sebagai invasi atau bahkan dukungan terhadap teroris. Padahal, konteksnya jauh lebih kompleks dan berkaitan dengan keamanan nasional Turki.

Tujuan utama Turki di kawasan perbatasan Suriah utara adalah menciptakan ‘zona penyangga’. Wilayah Idlib, yang dikuasai HTS dan berbagai kelompok lain, dianggap sebagai sumber potensial ketidakstabilan yang dapat membahayakan keamanan dalam negeri Turki. Oleh karena itu, operasi militer dan diplomasi Ankara di kawasan itu merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk melindungi kepentingan nasionalnya. Menilai kebijakan ini semata-mata sebagai ‘kolaborasi dengan ISIS’ adalah kesalahan besar, karena mengabaikan fakta bahwa HTS dan ISIS adalah dua kelompok yang berbeda.

Lanskap kelompok oposisi di Suriah sangatlah beragam, mulai dari faksi lokal hingga kelompok jihadis global. Menyamaratakan semua kelompok, apalagi secara keliru menyamakan HTS dengan ISIS, adalah sumber utama disinformasi yang berbahaya. Kesalahan ini tidak hanya menyesatkan pemahaman publik tentang konflik, tetapi juga dapat membingungkan analisis tentang interaksi strategis negara-negara di kawasan Asia Barat.

Dalam realitas konflik yang rumit, kebijakan luar negeri suatu negara sering kali melibatkan interaksi dengan berbagai aktor di lapangan—termasuk kelompok yang bukan sekutu alami—demi mencapai tujuan strategis yang lebih besar, seperti stabilitas perbatasan. Memahami perbedaan mendasar antara kelompok-kelompok pemberontak seperti HTS dan ISIS membantu kita melihat kebijakan negara seperti Turki dengan lebih jernih, menghindari narasi hitam-putih, dan mengapresiasi kompleksitas tantangan keamanan di kawasan.

Entitas terdeteksi
Organisasi: Hay'at Tahrir al-Sham, ISIS, pemerintah Suriah
Lokasi: Turki, Suriah, Idlib, Rusia, Amerika Serikat
Aplikasi Xplorinfo v4.1