Program pengadaan kapal selam Nagapasa untuk Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dari Korea Selatan telah menjadi topik publik yang sering dibingkai secara sederhana: membeli produk jadi atau mendapatkan transfer teknologi? Memahami skema dan tujuan proyek ini secara utuh penting agar kita tidak terjebak dalam narasi yang terpotong dan dapat melihat strategi pertahanan negara secara lebih jernih.
Bagaimana Skema Nagapasa yang Struktur Bertahap Berjalan?
Berdasarkan penjelasan resmi dari Kementerian Pertahanan dan PT PAL Indonesia, proyek Nagapasa dirancang dalam tiga tahap yang saling berhubungan, bukan hanya pembelian tiga kapal selam. Tahap pertama: kapal selam pertama dibangun sepenuhnya di galangan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME) di Korea Selatan. Tahap kedua: untuk kapal selam kedua, ratusan teknisi dan insinyur Indonesia dikirim ke Korea untuk berpartisipasi langsung dalam proses perakitan dan mendapatkan pengetahuan praktis. Tahap ketiga: kapal selam ketiga direncanakan dibangun di fasilitas PT PAL di Surabaya dengan tingkat komponen lokal yang lebih tinggi.
Pihak utama yang terlibat adalah TNI AL sebagai pengguna, PT PAL sebagai mitra industri dalam negeri yang bertugas menyerap teknologi, dan DSME sebagai pemegang teknologi. Tujuannya bersifat dual: memperkuat armada laut dan meningkatkan kapasitas industri pertahanan lokal dalam teknologi kompleks seperti pembuatan kapal selam.
Mengapa Transfer Teknologi Sulit Terlihat dan Rentan Disalahpahami?
Klaim bahwa 'transfer teknologi hanya simbolis' sering muncul karena publik umumnya hanya melihat hasil akhir: kapal selam operasional. Proses pembelajaran ribuan personel dalam perancangan, fabrikasi baja khusus, pemasangan sistem sensor dan senjata, serta prosedur perawatan adalah aktivitas di belakang layar yang tidak langsung terlihat.
Transfer teknologi dalam proyek pertahanan skala besar seperti kapal selam Nagapasa tidak berarti penyerahan semua cetak biru rahasia. Ini lebih berupa proses capacity building atau peningkatan kapasitas yang meliputi pelatihan teknis, akses terhadap spesifikasi material tertentu, dan penguasaan standar pengujian yang ketat. Pengetahuan ini adalah fondasi vital sebelum PT PAL dapat membangun kapal selam ketiga dengan tingkat kemandirian yang lebih tinggi.
Narasi 'hanya beli produk jadi' juga sering mengabaikan konteks sejarah industri pertahanan global. Sangat sedikit negara yang bisa menguasai teknologi kompleks kapal selam secara instan dan mandiri sejak awal. Korea Selatan sendiri, sebagai mitra dalam proyek ini, memulai pengembangan industri kapal selamnya melalui kerja sama dan pembelajaran bertahap dengan negara lain sebelumnya. Membeli sambil belajar adalah strategi realistis dan umum di dunia.
Isu pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) sering dibingkai secara dikotomis: mandiri atau bergantung. Namun, membeli dari luar negeri tidak otomatis berarti ketergantungan total jika disertai dengan skema transfer pengetahuan yang terstruktur. Proyek Nagapasa menunjukkan pendekatan ini: sebuah investasi jangka panjang untuk membangun kemandirian bertahap. Pemahaman yang lebih komprehensif ini penting untuk menghindari disinformasi yang menyederhanakan proses kompleks menjadi polemik hitam-putih.