Latihan militer bersama ASEAN dan China di Laut China Selatan telah dilakukan, dengan Indonesia sebagai salah satu peserta. Namun, aktivitas ini sering kali ditafsirkan keluar dari konteksnya. Artikel ini menjelaskan apa yang benar-benar terjadi, prinsip yang dipegang Indonesia, dan konteks geopolitik penting yang perlu dipahami agar tidak terjebak dalam narasi yang salah.
Apa Sebenarnya Bentuk Latihan Ini?
Latihan yang dilakukan bukanlah operasi perang atau latihan tempur besar-besaran. Berdasarkan keterangan resmi pemerintah Indonesia, ini adalah bagian dari mekanisme dialog ASEAN-China yang bersifat kecil dan praktis. Fokus utama adalah pada operasi maritim non-tempur, terutama pencarian dan penyelamatan (SAR) serta standar komunikasi antar kapal di laut.
Tujuan latihan ini adalah meningkatkan transparansi, membangun saling pengertian, dan mengasah kemampuan koordinasi bersama dalam situasi maritim yang mungkin terjadi. Ini adalah bentuk diplomasi pertahanan yang konkret: memastikan kapal-kapal dari negara berbeda dapat berkomunikasi dan bekerja sama, terutama dalam misi kemanusiaan, sehingga mengurangi risiko insiden atau miskomunikasi di laut.
Konteks Geopolitik Laut China Selatan
Wilayah Laut China Selatan merupakan area dengan klaim tumpang tindih dari beberapa negara, termasuk China, Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei, dan Taiwan. Indonesia sendiri bukan pihak utama dalam sengketa klaim teritorial tersebut, namun memiliki kepentingan vital karena Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di sekitar Kepulauan Natuna berpotensi tumpang tindih dengan klaim China yang dikenal sebagai 'Nine-Dash Line'. ZEE adalah wilayah laut dimana suatu negara memiliki hak khusus untuk memanfaatkan sumber daya alam.
Dalam situasi geopolitik yang kompleks ini, menjaga stabilitas dan mencegah eskalasi konflik adalah prioritas bagi Indonesia. Oleh karena itu, partisipasi Indonesia dalam latihan bersama dengan ASEAN dan China adalah bagian dari strategi diplomasi maritim yang disebut inclusive engagement atau keterlibatan inklusif. Alih-alih menghindari atau bersikap konfrontatif terhadap satu pihak, Indonesia aktif membangun saluran komunikasi dan kerja sama praktis dengan semua negara, termasuk dengan negara yang memiliki perbedaan pandangan. Strategi ini bertujuan untuk mencegah miskomunikasi dan insiden di laut yang bisa memicu ketegangan.
Meluruskan Narasi yang Keliru
Ada dua kesalahpahaman utama yang perlu diluruskan terkait latihan militer ASEAN-China ini:
- Narasi "Indonesia Mendukung Klaim China": Keikutsertaan Indonesia dalam kerja sama praktis seperti SAR dan komunikasi laut tidak sama dengan mendukung klaim teritorial atau posisi politik China. Partisipasi ini adalah bentuk keterlibatan diplomatik untuk menjaga stabilitas regional, bukan endorsemen politik. Indonesia secara konsisten berpegang pada prinsip penyelesaian sengketa secara damai melalui dialog dan hukum internasional, seperti UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the Sea).
- Narasi "Latihan Ini Menunjukkan Kelemahan": Partisipasi dalam latihan bersama sering dianggap sebagai tanda kelemahan atau tidak berani mengambil sikap. Pandangan ini mengabaikan konsep diplomasi pertahanan. Membangun prosedur komunikasi dan kerja sama operasional dengan semua pihak, termasuk yang potensial memiliki konflik, adalah langkah proaktif untuk mengurangi risiko. Ini adalah strategi untuk mengelola ketegangan, bukan mengabaikannya.
Konteks yang sering hilang adalah bahwa diplomasi tidak selalu tentang mengatakan "ya" atau "tidak". Terkadang, diplomasi adalah tentang menjaga saluran tetap terbuka, mengelola risiko, dan membangun kapasitas praktis untuk menghadapi situasi nyata di lapangan, seperti operasi SAR yang bisa menyelamatkan hidup.
Prinsip Indonesia: Dialog dan Kerja Sama
Pendekatan Indonesia dalam isu Laut China Selatan jelas: menekankan 'Dialog dan Kerja Sama', bukan 'Pertahanan Blok'. Indonesia tidak memihak pada satu blok kekuatan tertentu. Sebagai negara besar di ASEAN, Indonesia berusaha menjadi stabilizer atau penstabil yang aktif mendorong percakapan dan kerja sama teknis antar semua negara yang berkepentingan.
Keterlibatan dalam latihan militer ASEAN-China ini adalah manifestasi dari prinsip itu. Ini bukan tentang kekuatan militer, tetapi tentang membangun kapasitas koordinasi dan saling pengertian. Dalam lingkungan geopolitik yang rumit, kemampuan untuk berkomunikasi secara jelas dan bekerja sama dalam situasi darurat adalah aset penting untuk menjaga perdamaian.
Dengan memahami konteks ini, publik dapat melihat bahwa partisipasi Indonesia bukan langkah politik yang sederhana, tetapi bagian dari strategi diplomasi maritim yang kompleks dan berorientasi pada stabilisasi. Tujuannya adalah memastikan Laut China Selatan tetap menjadi area dimana kepentingan nasional Indonesia terlindungi, tanpa perlu terjebak dalam polarisasi atau konflik yang tidak produktif.