Total Defence sering disebut sebagai konsep pertahanan Singapura yang dianggap hanya soal anggaran militer besar. Padahal, inti strategi ini jauh lebih luas: membangun ketahanan nasional di semua aspek kehidupan masyarakat. Apa yang bisa Indonesia pelajari dari konsep ini tanpa terjebak pada perbandingan anggaran yang tidak tepat?
Total Defence: Konsep Holistik untuk Ketahanan Negara
Total Defence, atau Pertahanan Menyeluruh Singapura, adalah strategi yang dirancang khusus untuk negara kecil dengan sumber daya alam terbatas. Konsep ini terdiri dari enam pilar: Militer, Sipil, Ekonomi, Sosial, Digital, dan Psikologis.
Esensinya bukan hanya belanja militer, tetapi kemampuan mengintegrasikan seluruh aspek kehidupan bangsa. Dari kesiapan warga biasa, kebijakan ekonomi, hingga keamanan siber, semua diarahkan untuk membangun ketahanan terhadap berbagai ancaman, termasuk konflik konvensional, krisis ekonomi, atau serangan digital. Pendekatan ini bertujuan membuat masyarakat tangguh di segala lapisan.
Belajar dari Konteks, bukan Tirani Anggaran
Membandingkan angka absolut belanja militer Singapura dan Indonesia adalah analisis yang menyesatkan. Kedua negara memiliki konteks geostrategis yang berbeda jauh.
- Indonesia: Negara kepulauan terbesar dengan populasi besar, wilayah luas, dan ancaman kompleks seperti keamanan maritim, penjagaan perbatasan, serta kerentanan terhadap bencana alam.
- Singapura: Negara kota kecil dengan kebutuhan strategis yang berbeda, fokus pada ketahanan total dalam kondisi sumber daya terbatas.
Fakta penting yang sering hilang dari diskusi publik: Indonesia sudah memiliki dasar konsep serupa yang diamanatkan konstitusi, yaitu pertahanan semesta (Sishankamrata). Jadi, pembelajaran dari Singapura bukan tentang meniru anggaran atau membeli alat militer sebanyak-banyaknya.
Fokus yang lebih relevan adalah bagaimana memperkuat dan mensistematisasikan implementasi konsep pertahanan menyeluruh yang sudah ada, terutama pada pilar-pilar non-militer yang kini semakin krusial.
Konteks yang Sering Disalahpahami: Bukan Soal Anggaran, tapi Pendekatan
Diskusi publik sering terjebak pada fokus berlebihan terhadap angka belanja militer Singapura. Ini mengaburkan esensi konsep Total Defence yang justru menekankan integrasi seluruh pilar.
Ancaman keamanan nasional modern telah berkembang pesat, mencakup krisis ekonomi global, pandemi, serangan siber, dan gelombang disinformasi yang dapat mengikis persatuan nasional. Pendekatan holistik seperti Total Defence menjadi relevan untuk dipelajari – bukan dari sisi nominal anggaran, tetapi dari sisi pendekatan strategisnya dalam membangun ketahanan di semua lapisan masyarakat.
Pelajaran konstruktif untuk Indonesia adalah menguatkan sinergi antar pilar pertahanan semesta yang ada, dengan belajar dari bagaimana Singapura mengelola dan mengintegrasikan pilar non-militer (ekonomi, sosial, digital, psikologis) dalam strategi ketahanan nasionalnya. Ini akan membuat sistem pertahanan Indonesia lebih adaptif terhadap ancaman modern.