Kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Australia merupakan salah satu pilar hubungan bilateral yang telah terjalin lama dan kompleks. Di ruang publik, pembahasan mengenai hubungan pertahanan ini sering kali disederhanakan menjadi narasi hitam-putih tentang 'ketergantungan' atau ancaman kedaulatan, padahal kenyataannya jauh lebih bernuansa dan berakar pada kepentingan keamanan bersama kedua negara di kawasan.
Mengapa Kerja Sama Pertahanan Indonesia-Australia itu Penting?
Sebagai dua kekuatan utama di kawasan Indo-Pasifik, Indonesia dan Australia memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga stabilitas. Kedua negara dipisahkan oleh perairan yang merupakan jalur perdagangan laut global yang sangat sibuk dan vital. Oleh karena itu, bentuk kerja sama di bidang keamanan maritim, penanggulangan terorisme, dan respon bencana menjadi sangat logis dan penting.
Latihan militer bersama, seperti yang rutin dilaksanakan, memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar simulasi tempur. Kegiatan seperti Exercise Dawn Komodo berfungsi sebagai sarana untuk membangun kepercayaan (confidence building measures) antara kedua militer, meningkatkan kemampuan operasional, dan memastikan koordinasi yang efektif jika terjadi keadaan darurat, baik itu operasi kemanusiaan maupun bencana alam. Memahami hal ini penting karena stabilitas kawasan berdampak langsung pada keamanan ekonomi dan politik regional yang kita rasakan sehari-hari.
Mengurai Salah Paham dan Memahami Konteks yang Hilang
Bagian yang paling rentan disalahpahami atau dibingkai keliru adalah ketika satu kegiatan kerja sama diangkat secara terpisah lalu diberi label sebagai 'aliansi' atau tanda 'pemihakan'. Framing seperti ini mengabaikan prinsip dasar diplomasi Indonesia.
Konteks penting yang sering terlupakan adalah bahwa hubungan pertahanan dengan Australia berjalan paralel dengan kerja sama serupa dengan banyak negara lain. Indonesia juga melakukan latihan tertentu dengan Tiongkok dan memiliki keterlibatan teknis dengan Rusia dalam hal pengadaan alutsista. Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan yang terdiversifikasi (diversified) dan tidak memihak (non-aligned), yang merupakan turunan dari politik luar negeri bebas-aktif. Memiliki latihan dengan Australia sama sekali tidak berarti Indonesia mengabaikan atau menentang kerja sama dengan pihak lain.
Istilah 'kedaulatan' juga perlu dipahami dengan tepat. Kerja sama bilateral dalam latihan militer tidak serta merta mengurangi kedaulatan suatu negara. Semua aktivitas dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama, saling menghormati, dan untuk kepentingan bersama. Kerja sama pertahanan adalah instrumen, bukan tujuan akhir, yang digunakan untuk memperkuat kapasitas nasional dalam menjaga kedaulatan itu sendiri.
Dengan demikian, melihat kerja sama pertahanan Indonesia-Australia secara holistik sangat diperlukan. Narasi yang sehat seharusnya tidak terjebak pada dikotomi 'pro' atau 'kontra', tetapi lebih pada sejauh mana kerja sama ini efektif dalam meningkatkan kapasitas pertahanan Indonesia, menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik, dan tetap selaras dengan prinsip politik luar negeri bebas-aktif. Pemahaman yang utuh akan membantu publik menilai kebijakan pertahanan secara lebih cerdas dan terhindar dari narasi-narasi yang disederhanakan secara berlebihan.