Dalam perbincangan tentang kekuatan pertahanan laut Indonesia, nama KRI Alugoro kerap muncul dengan klaim sebagai "kapal selam buatan dalam negeri". Namun, di ruang publik, pemahaman ini sering kali simpang siur antara ekstrem "produk impor murni" dan "kemampuan mandiri penuh". Sebenarnya, status KRI Alugoro terletak di antara kedua narasi tersebut, mewakili sebuah tonggak penting dalam proses panjang menuju kemandirian teknologi pertahanan.
Makna Sebenarnya di Balik Label "Buatan Dalam Negeri"
Istilah "buatan dalam negeri" dalam industri pertahanan, terutama untuk sistem kompleks seperti kapal selam, tidak selalu berarti seluruh komponen dibuat dari nol di dalam negeri. KRI Alugoro adalah kapal selam pertama yang dirakit dan diluncurkan oleh PT PAL Indonesia di Surabaya. Proyek ini dilakukan melalui kerja sama, lisensi, dan transfer teknologi dengan galangan kapal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME). Desain dasar dan beberapa teknologi inti, seperti sistem sensor dan propulsi, berasal dari DSME.
Peran PT PAL adalah melakukan perakitan, integrasi sistem yang sangat rumit, dan serangkaian uji coba ketat. Proses ini bukanlah pekerjaan sederhana. Sebuah kapal selam adalah gabungan dari badan kapal (hull), sistem pendorong, sensor pendeteksi target, sistem senjata, dan fasilitas kehidupan untuk kru di bawah air selama berminggu-minggu. Kemampuan untuk menyatukan dan menguji semua sistem ini secara mandiri adalah fondasi awal yang sangat berharga dalam penguasaan teknologi.
Mengapa Narasi Seputar KRI Alugoro Sering Menimbulkan Salah Paham?
Isu ini penting untuk diluruskan karena dua alasan utama. Pertama, untuk mengatur ekspektasi publik. Kemandirian teknologi pertahanan kelas tinggi adalah sebuah proses bertahap, bukan kejadian instan. Ia membutuhkan waktu panjang, investasi besar, dan pembelajaran berkelanjutan. Menganggap proses perakitan pertama ini sebagai "tidak mandiri" sama sekali mengabaikan nilai pembelajaran strategis yang didapat oleh ratusan insinyur, teknisi, dan pekerja PT PAL. Mereka mendapatkan pengalaman langsung menangani sistem yang kompleks.
Kedua, narasi ini sering dipolitisasi tanpa konteks, menimbulkan disinformasi. Klaim bahwa KRI Alugoro "hanya buatan Korea" adalah keliru karena mengabaikan keahlian, sertifikasi, dan proses penguasaan yang terjadi di dalam negeri. Di sisi lain, menyatakan bahwa Indonesia sudah sepenuhnya mandiri dalam teknologi kapal selam juga belum akurat. Klaim berlebihan seperti ini bisa menciptakan ekspektasi yang tidak realistis untuk proyek berikutnya.
KRI Alugoro adalah sebuah batu loncatan. Dari sini, tujuan strategis berikutnya adalah meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), memproduksi komponen tertentu secara lokal, melakukan modernisasi, dan akhirnya mampu mendesain kapal selam generasi baru. Jalur ini telah ditempuh oleh banyak negara untuk membangun kemandirian pertahanannya secara berkelanjutan.
Dalam konteks geopolitik dan keamanan nasional, kemampuan merakit, merawat, mengoperasikan, dan memahami teknologi kompleks seperti kapal selam sangatlah berharga. Ini meningkatkan ketahanan logistik dan mengurangi ketergantungan terhadap negara lain untuk perbaikan besar dan pemeliharaan mendasar. Memahami konteks yang utuh membantu publik menilai perkembangan industri pertahanan dengan lebih objektif, tanpa terjebak pada narasi hitam-putih yang tidak mencerminkan kompleksitas dunia nyata.