Kapal selam Nagapasa yang dioperasikan TNI AL sering menjadi bahan perdebatan di media sosial. Ada yang menyebutnya hanya produk rakitan, bahkan sekadar copy-paste dari Korea Selatan. Narasi ini mengaburkan capaian strategis industri pertahanan nasional. Sebenarnya, proyek pembangunan kapal selam ini merupakan program transfer teknologi bertahap yang legal dan terencana, yang dirancang untuk membangun kemampuan mandiri Indonesia di bidang teknologi pertahanan bawah laut.
Program Pembelajaran Teknis yang Terstruktur
Memang benar bahwa kapal selam Nagapasa didasarkan pada desain kapal selam kelas Chang Bogo asal Korea Selatan. Namun, prosesnya jauh dari sekadar membeli barang jadi. TNI AL bersama PT PAL Indonesia menjalankan program dengan tiga tahapan pembelajaran yang jelas. Kapal pertama (KRI Nagapasa-403) terutama dibangun di galangan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME) Korea Selatan, dengan insinyur Indonesia dilibatkan untuk belajar secara langsung. Tahap ini menjadi fondasi pengetahuan.
Pada kapal kedua (KRI Ardadedali-404), proses perakitan dan integrasi komponen besar-besaran mulai dialihkan ke galangan PT PAL di Surabaya. Puncaknya, pada kapal ketiga (KRI Alugoro-405), proses fabrikasi struktur lambung, konstruksi, dan integrasi sistem utama sudah dilakukan di dalam negeri. Ini menunjukkan progres yang jelas dari fase belajar hingga melakukan.
Mengapa Proses Bertahap Justru Realistis dan Strategis?
Membangun kapal selam memerlukan teknologi tinggi yang sangat kompleks. Mengharapkan Indonesia langsung bisa merancang dan produksi dari nol tanpa pengalaman sebelumnya adalah ekspektasi yang tidak realistis. Hampir semua negara dengan industri pertahanan maju memulai kemandiriannya melalui jalan yang sama: alih teknologi dan produksi bertahap dengan mitra yang telah berpengalaman.
Program ini memberikan manfaat besar dalam mengakumulasi ilmu dan keahlian teknis (know-how) yang langka. Proses ini mencakup penguasaan sistem kelistrikan khusus bawah laut, perpipaan bertekanan tinggi, sistem kendali, hingga teknik fabrikasi lambung yang mampu menahan tekanan ekstrem di kedalaman laut. Transfer teknologi ini adalah langkah paling fundamental dan kritis sebelum suatu bangsa mampu merancang sendiri di masa depan.
Meluruskan Dua Narasi Ekstrem yang Menyesatkan
Isu ini sering terjebak dalam dua narasi ekstrem yang sama-sama tidak akurat. Di satu sisi, ada yang mereduksi capaian ini sekadar jadi produk rakitan, seolah tidak ada nilai pembelajaran. Di sisi lain, ada pula klaim berlebihan yang menyebut Indonesia sudah bisa membuat kapal selam murni '100% asli'. Kedua persepsi ini mengabaikan realitas di lapangan.
Menyebut proses integrasi sistem dan fabrikasi di PT PAL hanya sebagai rakitan, berarti mengabaikan pembelajaran mendalam, adaptasi teknologi, dan pelatihan sumber daya manusia lokal yang terjadi di dalamnya. Sebaliknya, mengklaim kemandirian penuh juga tidak tepat karena program ini masih menggunakan desain dasar dari luar. Kunci untuk memahaminya adalah melihatnya sebagai siklus belajar-industri yang wajar dan perlu untuk menuju independensi jangka panjang.
Kapal selam Nagapasa dan keluarganya adalah bukti investasi strategis untuk masa depan. Keberhasilan program ini tidak diukur dari persentase komponen lokal hari ini, melainkan dari ilmu dan kapasitas yang tertanam di SDM dan industri nasional. Ini membuka jalan bagi proyek-proyek pengembangan kapal selam berikutnya yang semakin kompleks dan mandiri, yang sangat penting bagi kedaulatan maritim Indonesia di masa depan.