Belakangan ini, foto dan video pesawat tempur F-5 Tiger di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, viral di media sosial. Namun, narasi yang menyertainya sering kali menyesatkan, mengklaim bahwa pesawat tersebut adalah Alutsista TNI AU yang masih dioperasikan meski sudah usang. Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah fakta visual dapat dibingkai secara keliru, menciptakan persepsi palsu di tengah masyarakat. Media Xplorinfo akan menguraikan fakta sebenarnya di balik viralnya pesawat tersebut dan konteks yang kerap terlewatkan.
Fakta Sebenarnya: Dari Pesawat Tempur Menjadi Monumen Edukasi
Hal pertama dan paling penting untuk diluruskan adalah status pesawat F-5 Tiger tersebut. Berdasarkan penjelasan resmi TNI Angkatan Udara, pesawat itu bukan lagi Alutsista aktif yang siap diterbangkan. Statusnya telah berganti menjadi monumen atau static display. Fungsinya saat ini adalah sebagai media pembelajaran sejarah dan benda peraga, khususnya bagi para taruna Sekolah Penerbang TNI AU yang berada di lingkungan Lanud Abdulrachman Saleh.
Penempatan pesawat generasi lama di kompleks pendidikan adalah praktik yang umum di dunia militer, termasuk di angkatan udara negara maju. Tujuannya edukatif: memberikan gambaran nyata tentang struktur dan sejarah pesawat tempur kepada calon penerbang. Keberadaan F-5 Tiger di sana justru mencerminkan komitmen TNI AU terhadap pelestarian sejarah dan pendidikan, bukan sebagai indikator ketertinggalan teknologi.
Mengapa Hoaks Visual tentang Alutsista Mudah Menyebar?
Ada dua konteks kunci yang sering sengaja diabaikan atau dihilangkan dalam narasi viral, sehingga menimbulkan salah paham. Pertama, memang benar bahwa F-5 Tiger pernah menjadi tulang punggung TNI AU pada era 1980-an. Namun, seperti semua peralatan militer, pesawat ini memiliki siklus hidup dan akhirnya harus dipensiunkan. TNI AU telah dan sedang melakukan modernisasi dengan mengoperasikan pesawat tempur generasi baru seperti F-16 Fighting Falcon, Sukhoi Su-27/30, dan mempersiapkan kedatangan KF-21 Boramae.
Kedua, narasi yang beredar hampir tidak pernah menyebutkan lokasi spesifik dan status terkini pesawat. Penghilangan konteks inilah yang menjadi inti dari hoaks visual. Satu gambar yang sama, jika diberi keterangan "monumen di kompleks pendidikan", akan diterima sebagai hal yang wajar. Namun, ketika dipotong konteksnya dan diberi label "masih dioperasikan", timbullah kesan yang salah. Ini memanfaatkan celah pengetahuan publik tentang prosedur standar militer, seperti pensiunnya Alutsista dan pengalihan fungsinya.
Penyebaran informasi seperti ini penting untuk dicermati karena menyentuh isu sensitif pertahanan dan keamanan nasional. Narasi yang salah dapat merusak kepercayaan publik terhadap kemampuan TNI dan menciptakan kekhawatiran yang tidak berdasar. Di era informasi serba cepat, kemampuan untuk membedakan antara fakta visual dengan narasi yang membungkusnya menjadi keterampilan krusial.
Kasus F-5 Tiger ini memberikan pelajaran berharga. Masyarakat perlu mengadopsi sikap kritis, terutama terhadap konten yang terlihat "nyata" seperti foto atau video. Selalu tanyakan konteksnya: di mana lokasi pastinya, kapan fotonya diambil, dan apa status sebenarnya dari objek yang ditampilkan. Memahami bahwa pensiunnya Alutsista lama dan penggunaannya sebagai monumen adalah bagian dari siklus normal modernisasi militer, akan membantu kita terhindar dari jerat disinformasi. Pada akhirnya, kejelasan informasi adalah fondasi bagi pemahaman publik yang sehat mengenai dinamika pertahanan negara.